Options Panel



Which slider style you want to used?



Which skin color you want to used?
 


Reset


Satu Wasiat Istri Untuk Lelaki

Resensi Irwan (mahasiswa ISID Gontor kampus SIMAN)

Sungguh aku sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa dan harus mengomentari apa dari buku terbarunya Bang Ma’mun Affany ini. Sebagai pembaca aku hanya ingin sekedar menuliskan perasaan dan logikaku yang seakan terbolak-balik, jungkir-balik tak tahu arah. Tidak bisa membedakan mana timur, barat, selatan dan utara. Berkali-kali aku membaca karyanya, berkali-kali juga aku seakan masuk dalam dunia berbeda, tersihir seolah berpijak pada dunia yang penuh cinta tak terhingga.

Novel yang berjudul ‘Satu Wasiat Istri Untuk Lelaki’ bukan hanya sekedar menyadarkan lelaki sampai pada titik penyesalan dan kesedihan, akan tetapi lebih dari itu, tidak berlebihan rasanya jika aku katakan sampai pada titik penyesalan dan kesedihan yang tak berujung dan takkan pernah terhapuskan dari memori kehidupan, walau jasad telah berujung hidup di alam baka.

Semua rasa dan emosi mengalir dari simpati menjadi empati. kemudian menghujamiku dengan fakta yang seakan realita. Disaat lembaran demi lebaran telah habis kulahap, aku merasa masuk dalam kisah ini, bahkan aku merasakan kisah ini seakan satu potret dari bagian indah, sunyi, sepi hidup yang pernah ku rasakan.

Aku tidak terlalu piawai dalam mengambarkan keindahan novel yang di ramu dalam alur dan plot yang begitu dinamis ini. Terdeskripsikan perputaran rotasi hati yang kian melemah karena cinta tak bersambut dan ketabahan hati yang terpaksa hancur lebur bagai kaca remuk redam disaat cinta sudah benar-benar bersemayam tapi tidak kesampaian. Sekali lagi tidak berlebihan jika aku katakan lahiriyyahku, aqliyyahku, qolbiyahku tersihir. Ibarat ombak menggulung tinggi beberapa meter ke udara, tak sabar untuk terus melaju dan menghentikan arusnya di hulu, bagitulah animoku ingin menghabiskan novel ini hingga lembaran terakhir.

Aku tidak berharap antum/na, saudara/I, teman-teman, kawan-kawan untuk percaya sepenuhnya dengan apa yang ku tulis, sebab kacamata kita mungkin tak sama dalam mengungkap sarat hikmah tersirat dari suatu kisah, bisa saja antum/na, teman-teman sekalian mendapatkan lebih banyak dariku atau malah jauh lebih melimpah ruah lagi.

Aku menulis ini bukan untuk promosi, aku menulis ini bukan untuk curhat tentang perasaanku, tapi aku menulis ini hanya untuk berbagi. Jika bukan pada kalian, pada siapa lagi aku memberikan informasi bacaan terbaik penuh pesan halus tanpa menggurui dan begitu tepat menghujam ke inti hati.

Pernah ada pesan dari kang abik dalam salah satu novelnya, bertutur seperti ini:

Terkadang kita harus melupakan obesesi dan ambisi untuk sekedar menikamti sastra, sebab sastra dapat melembutkan rasa dan menghidupkan hati.

akhir kata satu pelajaran yang mungkin bisa kita bawa dari novel ini, tercatat dalam halaman akhir sebelum ucapan terima kasih (hal. 264).

Saat kita meminta cinta, Allah berikan wanita yang menyayangi kita, mungkin kita tidak tahu, mungkin di pandang bukan yang tercantik, tapi dialah yang terbaik. Ia hadir sebagai penyempurna dari hidup yang kita miliki

Share and Enjoy


BursaDesain.com